
Kalaupun toh suatu saat nanti aku menikah dengan orang lain, itu bukan berarti aku tidak mencintaimu karena cinta akan menemukan jalanya sendiri
Sudah hampir 4 tahun aku kuliah disini. Ini adalah tahun ke-4 sekaligus tahun terakhir aku dikampus ini. Itu artinya sebentar lagi aku akan meninggalkan dia sosok yang sudah mulai aku kagumi sejak awal aku disini, kampus ini –wanita impianku- , Tanti.
Jalan-jalan di kota blitar sudah beberapa bulan ini tidak diguyur hujan. Debu-debu menempel di sudut kaca dan dinding-dinding toko. Aku melaju pelan melewati jalan mastrip menuju toko baju Lubis untuk membelikan kerudung buat kenang-kenangan untuk Tanti. Di pertigaan Jl Seruni “the blues” sepeda motor tunganganku mnyerempet sebuah sepeda yang berbelok tiba-tiba. Aku berhenti menolong orang yang jatuh dari sepeda itu. Aku perhatikan dia sejenak. Seseorang berusia lanjut dengan satu kaki dan tongkat di lengan kananya. Di sepeda yang terjatuh itu aku lihat perbekalan, pakaian, dan lain-lain. Orang itu tampaknya tak punya tempat tinggal.
“kakek tidak apa-apa?” tanyaku pada kakek itu sambil membantunya berdiri.
“kakek tidak apa-apa. Tolong nak Mas bawakan ke tepi sepeda kakek itu!” jawab kakek sembari berjalan menuju tepi jalan di depan sebuah toko yang sudah tutup.
Aku bawa sepeda itu ke halaman toko yang sudah tutup itu kemudian aku duduk disamping kakek itu. Sejenak kami terdiam. Aku merasa bersalah telah menyerempet sepeda kakek itu. Apalagi dia adalah seorang yang cacat.
“Nak Mas sebenarnya mau kemana ?” tanya kakek itu
“Mau ke toko sebelah barat itu kek, mau membelikan kerudung untuk seseorang. Sebentar lagi kan kami akan berpisah, yah hitung-hitung untuk kenang-kenangan kek,!”
“Nak Mas jangan bermimpi terlalu jauh. Kamu tahu syari’at. Kamu tahu hukum Allah.maka kamu jangn melanggarnya nak Mas. Hidup ini jauh akan lebih baik jika kita hidup dalam kenyataan meskipun kenyataan itu amat sederhana dan bahkan mungkin pahit. Orang yang banyak berandai-andai kesanya tidak menerima takdir Allah. Kalau boleh kakek tahu siapa gadis impian nak Mas sebenarnya ? barangkali kakek bisa memberikan pendapat.”
“jujur ya kek, saya bercerita karena saya merasa ada pikiran yang arif dan bijak pada diri kakek, yang tentunya telah mendapat pengalaman yang luar biasa dari hidup ini. Namanya Tanti, ia sudah menikah dan punya 2 orang anak. Sejak perasaan ini muncul saya sudah putuskan bahwa tujuan akhir saya bukanlah merebut, merusak rumah tangga orang lain. Kalau soal itu saya tahu jelas hukumya secara syari’at. Saya hanya ingin mengungkapkan kejujuran dari dalam hati saya diujung pertemuan kami ini. Saya tidak ingin suatu saat saya mneyesal. Barang kali saja kami nanti berjodoh. kalaupun toh tidak setidaknya suatu saat nanti saya bisa membahagiakanya membalas kebaikanya kalaupun bukan untuk dia mungkin bisa untuk keluarganya.” Ujarku pelan.
“Nak Mas, kakek mengerti. Tapi sebaiknya perasaan itu tidak diucapkan karena akibatnya bisa buruk untuk banyak orang, apalagi untuk Nak Mas sendiri. Memang berat. Tapi tu yang terbaik Nak Mas. Yakinlah itu.” Jawab kakek.
Tidak ada yang bisa kuucapkan beberapa menit itu. Perasaanku agak sedih meskipun itu hanya sebuah nasehat. Aku teringat banyak kenangan kami yang sebentar lagi harus dilupakan, dan ditingglkan jauh-jauh. Mendadak langit yang sudah mendung itu meneteskan air hujan rintik-rintik. Seperti memberikan air mata kesedihannya.


05.19
Khotib Afandi
0 komentar:
Posting Komentar
pokok jangan yang aneh-aneh dan tidak melanggar hukum atau bisa dituntut oleh administrator